Minggu, 24 April 2011

Sekantong gorengan

0 komentar
Sekantong Gorengan

Insya Allah ini ada cerita yang cukup menarik...
smoga bisa mengambil hikmahnya....
met menikmati....

Seorang anak belasan tahun terduduk lemas di bawah
pohon di pinggiran jalan. Matanya yang sayu tampak
tengah mengamati antrian mobil di sepanjang jalan
Wijaya, Jakarta Selatan. “Mobil-mobil mewah” pikirnya.
Sejenak kuperhatikan matanya menerawang entah apa yang
dipikirkannya, namun yang kutahu pasti ia sangat
lelah. Itu bisa bisa dilihat dari seikat sapu lidi
yang bertengger bersama tubuhnya di pohon rindang,
juga seonggok sampah dalam sebuah keranjang besar.
Kutahu, ia seorang penyapu jalanan yang setiap pagi
tak pernah absen mengukur jalanan kota.

Tak kuasa rasanya kaki ini terus melangkah tanpa
berhenti menyapanya. Matanya yang sayu namun tajam itu
seperti menusuk hati ini dan memaku kuat kaki-kaki ini
untuk tak terus berlalu. Bukan, bukan mobil-mobil
mewah itu yang membuatnya menerawang, aku yakin, itu
hanya pelampiasan satu rasa yang sampai pagi ini
ditahannya. Dan kini, dari matanya, juga gerak lemah
tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

“Sudah makan dik?” sapaku dengan senyum yang
kupaksakan semoga menjadi yang termanis agar ia tak
merasa sungkan atau takut.

“Belum ...”. Benar dugaanku. Tubuhnya bergerak sedikit
bergeser semakin merapat dengan pohon, namun matanya
terus mengira-ngira siapa gerangan yang menyapanya.

"Ini, ambillah ...” sebungkus gorengan yang baru saja
kubeli di Prapatan dekat lampu merah serta sebotol
Aqua langsung menjadi miliknya. Seperti menggotong
gunung terbesar di dunia rasanya jika aku terus
mendekap makanan kecil tersebut tanpa peduli rasa
lapar yang ditahan anak itu.

“Nggak ... nggak usah ...” duh, ingin sekali hati ini
menangis. Sudah pasti kutahu ia sangat lapar, tapi
kenapa masih menolak pemberianku. Hmm, mungkin
senyumku kurang manis, atau bisa jadi ia masih
menangkap kekurang-ikhlasanku menyerahkan sarapan
pagiku kepadanya. Bisa saja, mata hatinya merasai
beratnya tangan ini saat terhulur bersama bungkusanku.
Bukan tidak mungkin ia mampu melihat lebih dalam niat
yang tersembul bersamaan dengan uluran tangan ini,
yakni sekedar ingin mendapatkan pujian atau perhatian
dari sekeliling.

Ah tidak. Takkan kubiarkan itu terjadi. Kulatih wajah
dan bibirku untuk bisa memancarkan senyum terindah
yang menyejukkan. Kurangkai betul-betul kalimat yang
semestinya keluar dari mulut ini agar tak
menakutkannya lagi, dan kuayun-ayunkan tangan ini
seperti senam kesegaran jasmani yang entah sudah
berapa tahun tak pernah kulakukan lagi, agar tangan
ini begitu ringan saat terhulur. Ahaaa ... hatiku
berteriak, mungkin karena sudah lama aku tak melakukan
senam, sehingga tangan ini semuanya menjadi kaku. Tapi
... bukan, bersedekah itu tidak ada kaitannya dengan
rajin senam, olahraga, apalagi angkat berat. Berarti,
untuk apa juga kulatih wajah dan bibirku tadi, dan
bersusah payah merangkai kata layaknyak seorang
pujangga tengah menyusun syair keagungan hanya sekedar
untuk menyodorkan sedekah.

“Ayo ... ambil saja ...” kali ini benar-benar
kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang lebih
ringan. Tentu saja tanpa melakukan latihan-latihan
terlebih dahulu. Karena ini sekedar mengulang satu hal
yang sudah lama tak kulakukan. Ya! ... hatiku
berteriak lagi. Kutemukan jawabannya. Masalahnya bukan
soal wajah dan senyumku yang harus dipaksakan
semanis-manisnya, atau sudah sekian lamanya tak
bersenam tangan. Sesungguhnya, diri ini sudah lama tak
merasai duduk bersama, makan bersama dan berbagi
dengan mereka, anak-anak yatim, fakir miskin,
orang-orang yang lemah. Tangan ini sudah lama tak
terhulur untuk mereka, bahkan seringkali wajah dan
pandangan ini berpaling dari hentakan-hentakan kaki
lapar mereka, juga erangan penderitaan yang semestinya
memekakkan telinga ini.

Kuulangi tawaranku, tapi kali ini sambil duduk
disampingnya. Kalau saja pohon itu cukup untuk berbagi
sandaran, tentu aku akan bersandar pula dengannya,
sekedar untuk membuatnya nyaman, bahwa aku adalah dia,
dia adalah bagian dari aku. Itu saja intinya.
Untungnya, pohon itu terlalu kecil untuk tempat
berbagi, karena sesungguhnya, saat ini aku tidak lebih
membutuhkan sandaran itu. Cukuplah itu untuknya, aku
tak ingin merebut lahan kesejukannya. Mungkin saja,
selama ini hanya pohon itulah tempatnya bersandar,
memperdengarkan keluhannya, menempelkan peluhnya, dan
sesekali menjadi bantal tidurnya.

Ia sangat tahu, seandainya pohon itu memiliki tangan,
pastilah kehangatan pelukannya senantiasa dirasai.
Tapi bukankah Tangan-Tangan Allah bertebaran
dimana-mana? Saya yakin, keyakinan itulah yang
menjadikannya terus bersandar di pohon ciptaan Allah
itu, karena ia tahu, kapanpun, dimanapun ia
memasrahkan diri, Allah selalu disana. Bersama
orang-orang yang lemah, memeluk anak-anak yatim, dan
sangat dekat dengan fakir miskin.

Tanganku masih terhulur. Ia tak segera menyambutnya.
Hanya keraguan yang menyemburat dari wajahnya.

“Kalau saya ambil ini, mas makan apa?” Degg. Kali ini
aku tak ingin menangis. Ingin sekali kupeluk dia. Aneh
rasanya, di zaman seperti ini, saat banyak orang tak
peduli lagi dengan kepentingan orang lainnya, diwaktu
manusia yang satu menginjak manusia yang lainnya untuk
kepentingan pemuasan perutnya sendiri, dikala semakin
punahnya orang-orang yang mau memikirkan nasib orang
lain. Eh, anak ini, yang aku ikhlaskan sarapan pagiku
karena aku masih bisa membelinya lagi, malah berbalik
memikirkan ‘nasib’ku. “mas makan apa?” terbayang nggak
sih ...

“Sudah ... saya bisa beli lagi. Ini buat adik,” Senyum
diwajahnya memancarkan rasa syukur yang tak
tergambarkan, meski hanya sekantong gorengan dan
sebotol Aqua. Tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia
menyambut hangat tanganku.

“Aku yang berterima kasih sama kamu dik. Kalau kamu
tidak menerimanya, entah kapan lagi kesempatan terbaik
ini datang lagi kepadaku. Mungkin tangan ini akan
semakin kaku sehingga semakin sulit terhulur. Wajah
dan pandangan ini bahkan bukan lagi sekedar berpaling
saat kehadiranmu, tapi justru tak lagi melihat meski
tangismu bagai halilintar didepan hidungku. Kaki-kaki
ini tak lagi berhenti untuk sekedar mencari tahu, apa
yang tengah terjadi denganmu hari ini. Dan tak ada
lagi senyum keikhlasan dari hati ini untuk bisa duduk
bersama denganmu”. Aku teruskan langkahku tanpa
menoleh kebelakang, ungkapan rasa syukurku terus
terngiang mengiringi kelegaan dada yang tiba-tiba saja
kurasakan, entah karena apa.

sudahkah kita beramal dan bersedekah hari ini?
sumber Tikmal
buku islami

Doa untuk orang tua

0 komentar
~ DO’A UNTUK ORANG TUA ~

 (Diambil dari syahifah as-Sajjadiyah)
Ya Allah,
Rendahkanlah suaraku bagi mereka,
Perindahlah ucapanku di depan mereka.
Lunakkanlah watakku terhadap mereka dan
Lembutkanlah hatiku untuk mereka.
Ya Allah,
Berilah mereka balasan yang sebaik-baiknya
Atas didikan mereka padaku dan
Pahala yang besar
Atas kesayangan yang mereka limpahkan padaku,
Peliharalah mereka
Sebagaimana mereka memeliharaku.
Ya Allah,
Apa saja gangguan yang telah mereka rasakan,
atau kesusahan yang mereka derita karena aku,
atau hilangnya sesuatu hak mereka karena perbuatanku,
jadikanlah itu semua
Penyebab rontoknya dosa-dosa mereka,
Meningginya kedudukan mereka dan
Bertambahnya pahala kebaikan mereka dengan perkenan-Mu, ya Allah
sebab hanya Engkaulah yang berhak membalas kejahatan
dengan kebaikan berlipat ganda.
Ya Allah,
Bila magfirah-Mu telah mencapai mereka sebelumku,
Izinkanlah mereka memberi syafa'at untukku.
Tetapi jika magfirah-Mu lebih dahulu mencapai diriku,
Maka izinkahlah aku memberi syafa'at untuk mereka,
sehingga kami semua berkumpul
Bersama dengan santunan-Mu
di tempat kediaman yang dinaungi kemulian-Mu, ampunan-Mu serta
rahmat-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah
yang memiliki Karunia Maha Agung,
serta anugerah yang tak berakhir dan
Engkaulah yang Maha Pengasih Diantara semua pengasih.



buku islami

keutamaan ilmu

0 komentar
Ilmu Pengetahuan dan Kebodohan




1. Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sodaqoh. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya, dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat. (HR. Ar-Rabii')

2. Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka'at. (HR. Ibnu Majah)

3. Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah). (HR. Ibnu Majah)

4. Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu. (HR. Ath-Thabrani)

5. Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakannya terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan di kalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barangsiapa seperti itu maka baginya neraka ... neraka. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

6. Kelebihan seorang alim (ilmuwan) terhadap seorang 'abid (ahli ibadah) ibarat bulan purnama terhadap seluruh bintang. (HR. Abu Dawud )

7. Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. (HR. Muslim)

8. Duduk bersama para ulama adalah ibadah. (HR. Ad-Dailami)

9. Apabila kamu melewati taman-taman surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman surga itu?" Nabi Saw menjawab, "Majelis-majelis taklim." (HR. Ath-Thabrani)

10. Apabila muncul bid'ah-bid'ah di tengah-tengah umatku wajib atas seorang 'alim menyebarkan ilmunya (yang benar). Kalau dia tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Tidak akan diterima sodaqohnya dan kebaikan amalannya. (HR.Ar-Rabii')

11. Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali (di mulutnya) dari api neraka. (HR. Abu Dawud)

12. Seorang alim apabila menghendaki dengan ilmunya keridhoan Allah maka dia akan ditakuti oleh segalanya, dan jika dia bermaksud untuk menumpuk harta maka dia akan takut dari segala sesuatu. (HR. Ad-Dailami)

13. Yang aku takuti terhadap umatku ialah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. (HR. Abu Dawud)

14. Yang aku takuti terhadap umatku ada tiga perbuatan, yaitu kesalahan seorang ulama, hukum yang zalim, dan hawa nafsu yang diperturutkan. (HR. Asysyihaab)

15. Celaka atas umatku dari ulama yang buruk. (HR. Al Hakim)

16. Barangsiapa dimintai fatwa sedang dia tidak mengerti maka dosanya adalah atas orang yang memberi fatwa. (HR. Ahmad)

17. Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat. (HR. Al-Baihaqi)

18. Apabila kamu melihat seorang ulama bergaul erat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia adalah pencuri. (HR. Ad-Dailami)

19. Seorang ulama yang tanpa amalan seperti lampu membakar dirinya sendiri (Berarti amal perbuatan harus sesuai dengan ajaran-ajarannya). (HR. Ad-Dailami)

20. Termasuk mengagungkan Allah ialah menghormati (memuliakan) ilmu, para ulama, orang tua yang muslim dan para pengemban Al Qur'an dan ahlinya[1], serta penguasa yang adil. (HR. Abu Dawud dan Aththusi)

21. Sesungguhnya Allah tidak menahan ilmu dari manusia dengan cara merenggut tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa seorang alim. Dengan demikian orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin yang dungu lalu ditanya dan dia memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan. (Mutafaq'alaih)

22. Sedikit ilmu lebih baik dari banyak ibadah. Cukup bagi seorang pengetahuan fiqihnya jika dia mampu beribadah kepada Allah (dengan baik) dan cukup bodoh bila seorang merasa bangga (ujub) dengan pendapatnya sendiri. (HR. Ath-Thabrani)

23. Maafkanlah dosa orang yang murah hati, kekeliruan seorang ulama dan tindakan seorang penguasa yang adil. Sesungguhnya Allah Ta'ala membimbing mereka apabila ada yang tergelincir. (HR. Bukhari)

24. Saling berlakulah jujur dalam ilmu dan jangan saling merahasiakannya. Sesungguhnya berkhianat dalam ilmu pengetahuan lebih berat hukumannya daripada berkhianat dalam harta. (HR. Abu Na'im)



--------------------------------------------------------------------------------

Catatan Kaki:



[1] Pengemban Al Qur'an dan ahlinya termasuk pembaca, penghafal, ahli tafsir, dan penegak ajaran Al Qur'an.



Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) - Dr. Muhammad Faiz Almath - Gema Insani Press


--------------------------------------------------------------------------------
buku islami

.:: HaditsWeb ::.

ini lah Rosul kita tercinta

0 komentar
MUHAMMAD RASULULLAH
Assalamu'alaykum Wr. Wb.

Masjid Madinah pada jaman awal Islam senantiasa ramai dan penuh sesak dikunjungi oleh kaum Muslimin (sahabat-sahabat Nabi Saw). Terutama sekali sesudah shalat malam, dimana Nabi Muhammad Saw biasa memberikan berbagai macam pelajaran tentang ibadah, tentang politik, tentang ekonomi dan tentang hal-hal lainnya yang berguna bagi kemaslahatan manusia (baca: umatnya).

Tapi tatkala duduk didalam masjid itu, tidaklah kelihatan perbedaan antara Nabi dan para sahabatnya. Ia duduk seperti orang lain duduk, ia berpakaian sebagaimana sahabat-sahabatnya berpakaian, tempat duduk beliau tidak ditinggikan dan permadani yang menjadi alas duduknya tidak diistimewakan. Siapa saja berhak dan boleh duduk didekatnya.


Ketika ia berbicara, maka kelihatanlah wajahnya yang senantiasa
berseri-seri, suaranya tidak keras dan tidak terlalu pelan, tetapi lemah
lembut, sedap didengar dan mudah dipahami. Ia berbicara bukan saja melalui mulutnya, tetapi juga dengan sepenuh hatinya, sehingga setiap
kata yang diucapkan beliau, bukan saja kuping yang mendengar tetapi juga meresap jauh kerelung hati. Maka pada waktu itu pula ia menjawab
bermacam-macam pertanyaan yang diajukan umatnya.


Dan pernah ketika itu mesjid Madinah telah ramai lebih dahulu, sementara Nabi belum datang. Maka sewaktu ia muncul dipintu masjid,
berdirilah para sahabatnya untuk menghormati kedatangannya dan ingin
mengiringinya. Tetapi dilarangnya mereka berdiri dan Rasulullah berkata:

'Jangan kamu berdiri, aku bukanlah seorang raja, aku juga makan dan minum seperti kalian, aku hanyalah hamba Allah !'


Maka hadir kemasjid waktu itu, bukan saja menjadi kesukaan kaum muslimin dengan tujuan untuk mengerjakan ibadah shalat kepada Allah, akan tetapi juga kerinduan mereka ingin melihat wajah Nabinya yang selalu diliputi senyuman, memancarkan kasih sayang yang dalam dan kebaktian kepada Tuhan.


Jika ada diantara umatnya itu yang ingin membesarkan dirinya dan
memuji-mujinya secara berlebihan, maka disebutkannyalah bahwa
sahabat-sahabatnya juga lebih pantas menerima sanjungan itu.
Disebutnya kesetiaan Abu Bakar, diterangkannya keberanian Umar Bin
Khatab, dilukiskannya kelembutan hati dan kefasihan lidah Usman Bin Affan membaca Qur'an, kecerdasan dan kepintaran Ali Bin Abu Thalib, kedermawanan Siti Khadijah, ketabahan Bilal Bin Rabbah, ketaatan Abdullah Bin Mas'ud, keteguhan hati Ammar Bin Yasir dan sebagainya.

Jika ada pula umatnya yang memuji-muji keberanian beliau, maka dialihkannya perhatian umatnya itu kepada keberanian Hamzah Bin Abdul Muthalib, Khalid Bin Walid dan pahlawan-pahlawan Islam lainnya.


Kemudian bila ada orang yang berani melebihkan kedudukannya melebihi para Nabi dan Rasul terdahulu, maka Nabi Muhammad Saw lantas menegaskan : bahwa semua Nabi dan Rasul Tuhan itu adalah sama saja dihadapan Allah, lalu diceritakannya keteguhan hati Nabi Isa, ketekunan Nabi Yahya, Keimanan Nabi Zakaria, keteguhan Nabi Yusuf, kebesaran Nabi Sulaiman, ketabahan Nabi Ayub dan lain-lainnya.


"Sesungguhnya Kami telah mamberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (QS. 4:163)

"Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya dan tidak
membedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. 4:152)

"Katakanlah (hai orang-orang mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. 2:136)

Maka dari cerita-cerita yang disampaikan itu jelaslah bahwa ia sangat
memuliakan semua Nabi dan Rasul, dan dirinya sendiri dinamakannya hanya sebagai penerus dari tugas para Rasul terdahulu.


"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. 33:40)


"Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu
sebelumnya beberapa orang rasul." (QS. 3:144)


Beliau besar tetapi tidak mau membesarkan diri. Ia agung tetapi tetap
rendah hati. DAn pada waktu ada umatnya yang ingin mencium tangannya, maka ia sendiri menarik tangannya penuh kelembutan.


Ditanyakannya perihal keadaan sahabatnya dan diberikannya pertolongan kepada mereka, dan kadang-kadang karena memberikan pertolongan kepada orang lain, beliau sendiri lupa akan dirinya. Digembirakan hati umatnya kepada kebajikan, dilarangnya siapa saja berbuat kejahatan dan kalau ada orang membuat kebohongan, maka wajahnya akan memerah tanda ia tidak suka.

pada suatu hari, ada seorang tua yang suka membersihkan masjid, tidak kelihatan hadir didalam masjid, Nabi lantas bertanya kepada
sahabat-sahabatnya : kemana orang tua itu, apakah ia sakit atau berhalangan. Seorang dari sahabatnya menerangkan bahwa : orang tua tersebut tidak ada lagi, telah meninggal dunia serta telah dikebumikan pula dengan baik.


Mendengar keterangan itu, Nabi Muhammad Saw kelihatan kaget sekali dan ia menanyakan : kenapa hal itu tidak diberitahukan kepadanya. Orang banyak menjawab bahwa : Rasulullah sudah terlalu sibuk dan kematian seorang tua biasa rasanya tidak perlu diketahuinya.

Jawaban itu amat tidak memuaskan bagi Nabi, kelihatan wajahnya berubah karena kesal dan karena sedih, dan ia menyatakan akan segera berziarah kekubur orang tua itu.


"Kuburnya jauh sekali, ya Rasulullah !" Ujar seorang sahabat.
Dan Nabi tetap akan menziarahinya. Diperingatkannya kepada para sahabatnya, bahwa semua manusia itu adalah sama kedudukannya, dan siapa yang bertakwa itulah yang lebih pantas mendapat kemuliaan dihadapan Allah.


"Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. 2:197)


"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. 49:13)


Dan keesokan harinya, ia pergi berziarah, jauh diluar kota, padahal panas sangat teriknya. Sekembali dari ziarah itu, kelihatanlah bajunya yang basah oleh keringat dan berdebu, namun wajahnya tetap berseri-seri, mencerminkan kepuasan batinnya akan apa yang telah beliau lakukan.


Sungguh amat besar perhatiannya kepada semua orang, dan lebih-lebih kepada orang-orang yang hidupnya selalu diliputi kemiskinan. Pada suatu hari raya, ia sangat bergembira, namun ketika dipinggir jalan dilihatnya seorang anak piatu menangis berhiba hati, maka wajah beliaupun ikut bermuram durja.

Diangkatnya wajah anak itu dengan tangannya, dibujuknya hatinya yang sedih dan ditawarkannya : Apakah anak itu senang menjadikan dirinya sebagai ayahnya dan Aisyah sebagai ibunya?. Kemudian dibawanya anak itu kerumahnya dan barulah wajah beliau cerah kembali setelah anak tersebut ikut bergembira menikmati hari raya yang mulia.


Kalau ada temannya yang sakit, maka ia segera berkunjung dan tidak
ditunggunya sampai temannya itu mengalami sakit yang parah.

Berkata Abu Hurairah : 'Aku telah dikunjungi oleh Rasulullah, padahal aku cuma sakit mata sedikit saja.'


Kadang-kadang berkelakarlah ia dengan para sahabatnya itu, berkelakar
secara sopan, tetapi sangat menggembirakan hati.


Sekali dilihatnya seorang sahabat memakan korma, padahal sahabat itu sedang sakit sebelah matanya. Maka dengan nada kaget Nabi bertanya : 'Hai, bagaimana caranya memakan korma itu padahal matamu sakit sebelah?'


Sahabat itu rupanya mengerti akan kelakar Nabi, lalu ia menjawab sambil tersenyum : 'Korma ini kumakan dengan mataku yang sebelah lagi, ya Rasulullah !' Mendengar itu Rasulullah tersenyum.


Pada suatu hari yang lain, beliau melihat salah seorang sahabatnya naik kuda, lalu dengan bernada heran, Nabi bertanya : 'Hai, kenapa anda menaiki anak kuda itu ?'
'Ini bukan anak kuda, ya Rasulullah ! Ini adalah induk kuda !' jawab orang tersebut sambil melompat turun dari kudanya.
Nabi menjelaskan : 'Tiap induk kuda adalah anak kuda juga !', maka
laki-laki itu tersenyum dan Rasulullah ikut tersenyum pula.


Dihari lain pula, seorang tua menanyakan kepadanya : 'Apakah ia bisa masuk sorga dengan segala ibadah yang dikerjakannya ?' Nabi rupanya ingin berkelakar, lalu beliau menjawab : 'Didalam sorga tidak ada orang tua !'


Mendengar jawaban pendek dari Nabi itu, maka orang tua tadi hampir saja menangis dan menghempas-hempaskan kakinya. Tetapi Nabi cepat melanjutkan : 'Dalam sorga memang tidak ada orang tua, sebab semua orang akan menjadi muda kembali di sorga.'


Orang tua itupun tertawa terbahak-bahak mendengar kelakar Nabi dan Nabi-pun tersenyum bahagia.


Maka siapakah gerangan yang tidak akan senang dengan Nabi sebaik itu, siapakah orangnya yang akan merasa kerasan tinggal dirumahnya sendiri pada waktu shalat dan malam hari, dimana dimesjid, Nabi sedang memberikan bermacam-macam tuntunan hidup.


Ia sangat hormat kepada orang-orang yang lebih tua dan sangat pandai
bergaul dengan teman-teman sebayanya, beliau juga sangat kasih kepada anak-anak serta sangat hormat kepada wanita.


"Sepuluh tahun aku tinggal dirumahnya dan membantu urusan rumah tangganya" kata Anas Bin Malik, "Namun tidak pernah kudengar ia mengomel. Tak pernah ia mengucapkan : 'Ini kenapa begini ? atau Itu kenapa begitu ?"


Kata Aisyah, Istrinya : "Ia tidak pernah memukul anak-anak, ia tidak
pernah juga memukul pembantunya dan iapun tidak pernah memukul wanita !"


Bila ada orang-orang yang berhajat menemuinya, maka ialah yang lebih dulu menganggukkan kepala atau mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Tidak ditariknya tangannya dari berjabat tangan sebelum orang lain menarik duluan, dan jika ada diantara para sahabat yang berjabat tangan dengan ujung jarinya saja, maka ditariknya tangan sahabat itu, dan ia berkata sambil senyum : 'Jangan terlalu pelit.'


Dihormatinya semua orang, bahkan orang-orang yang sangat membencinyapun dihormatinya juga. Dikota Madinah, tidak ada orang sejahat Abdullah Bin Ubay, kepala kaum munafik yang selalu menyebarkan fitnah dan kekacauan.

Tetapi sewaktu Abdullah Bin Ubay wafat dan anaknya sendiri datang menemui Nabi dan memberitakan kematiannya, maka kelihatan benar rasa haru pada wajah yang mulia itu.


"Ayahku berwasiat supaya baju anda dapat dipakai untuk menyelimuti
jenasahnya !" Kata anak Abdullah Bin Ubay secara tidak sopan. Tetapi Nabi tidak marah, Nabi lantas menyalin bajunya dan memberikan bajunya waktu itu juga.

Sekali waktu ketika Nabi Muhammad Saw sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, lewatlah sebuah rombongan mengusung jenasah, lalu Nabi berdiri : menghormati jenasah itu.

Setelah lewat rombongan itu, maka para sahabat memberitahukan bahwa jenasah itu adalah jenasah orang Yahudi. Tetapi Nabi menjawab : "Aku tahu itu adalah jenasah Yahudi, tetapi bila manusia sudah wafat, maka keadaannya sama saja."


Aisyah berkata : "Tidak ada seorangpun daripada Rasulullah Saw !"
Jair Bin Abdullah : "Kapan saja aku menemui Rasulullah, selalu kulihat
beliau tersenyum."

Pernah Rasulullah memangku seorang anak bayi keluarga miskin, dan ibu dari anak tersebut terkejut ketika bayinya kencing diatas pangkuan Nabi. Tetapi Nabi hanya tersenyum dan ibu sianak disuruhnya bersenang hati.


Sebagai seorang suami, Nabi Muhammad Saw terkenal sebagai suami yang tidak pernah menurunkan tangan kasar maupun kata-kata keras kepada istri-istrinya. Suatu malam, terlambatlah beliau pulang dari masjid kerumahnya dan setelah pintu diketuknya berulang-ulang, Siti Aisyah tidak juga terbangun dan membuka pintu.

Maka tidurlah ia diberanda rumahnya sampai pagi, dijadikannya serbannya sebagai alas tidur dan dijadikannya lengannya sebagai bantal.


Ketika subuh, Siti Aisyah kaget melihatnya dan ia bertanya kenapa
Rasulullah tidak membangunkannya. Nabi menerangkan bahwa ia telah mengetuk pintu berulang-ulang, tetapi rupanya Aisyah tidur nyeyak sekali.


"Kenapa tidak engkau ketuk pintu sedikit keras, biar saya terbangun wahai Rasulullah ?" Tanya Aisyah.


Nabi menjawab dengan tersenyum : "Sedangkan Tuhan yang amat berkuasa atas segala hamba-Nya lagi tidak mengizinkan engkau terbangun, maka saya yang hanyalah seorang hamba Allah terlebih lagi tidak memiliki hak untuk membangunkanmu, hai Umairah."

Siti Aisyah kemudian meminta maaf kepada Nabi, tetapi Rasulullah tidak merasa bahwa istrinya itu bersalah, semuanya telah diatur oleh Allah.


Kadang-kadang beliau pulang kerumahnya, dan tidak ada makanan yang tersedia. "Belum ada makanan yang saya masak ya Rasulullah, yang ada hanya makanan yang masih mentah." Kata Aisyah.


Maka Nabipun tersenyum lalu ia pergi kedapur dan memasaknya sendiri dan setelah siap, makanlah mereka semuanya bersama-sama.


Nasihat serta saran yang diterimanya dari siapapun akan beliau terima jika memang hal itu bagus. Hal ini terlihat ketika peristiwa perang khandak, beliau menerima masukan dari sahabatnya, Salman Al-Parisy untuk membuat parit pertahanan sekitar kota Madinah.

Setelah mengadakan pertimbangan dan musyawarah bersama para sahabat yang lain, akhirnya usulan dari Salman Al-Parisi tersebut diterima. Maka bekerjalah mereka semua, termasuk Nabi sendiri untuk menggali parit pertahanan (khandak).


Ketika kota Mekkah berhasil ditundukkannya dan para sahabatnya memasuki kota Mekkah, maka Nabi memperlahankan jalan ontanya. Orang lain bersorak sorai karena kegembiraan, tetapi beliau sendiri menundukkan kepalanya kebumi dan matanya kelihatan basah menahan tangis. Menangis ia karena bersyukur dan pada waktu kemenangan tersebut, beliau berdoa memohon ampun kepada Allah.


Ia nyaris tidak pernah berbuat kesalahan hatinya pun suci dan hidupnya penuh pula diliputi kesucian. Namun meski demikian, ia selalu berdoa agar dosa-dosanya dan dosa-dosa umatnya diampuni oleh Allah, dan ia selalu membaca istighfar siang dan malam.

Menurut sebuah riwayat, ia membaca istighfar setiap hari tidak kurang dari 70 kali, adapula yang meriwayatkannya 200 kali.

Dan shalat malam (Tahajud) dikerjakannya setiap malam. Meskipun tidak jarang pada waktu itu keadaan tubuhnya begitu lelah dan penat, namun tiadalah Nabi merasa sungkan untuk beribadah kepada Allah.


Bilal Bin Rabah telah menyaksikan betapa Rasulullah itu tetap juga
mengerjakan shalat malam tatkala dalam perjalanan. Bertanya Bilal : "Engkau shalat lagi ya Rasulullah ! Bukankah dosamu tidak ada dan engkau telah dijamin Allah masuk sorga ?"

Nabi menjawab : "Tidakkah engkau bergembira ya Bilal, bila aku beribadah kepada Tuhanku ?"

Namun sungguh bagi pemikiran yang sederhana,..akan sulitlah mengerti. Dan ketidakmengertian ini tidak bisa dipaksakan mengerti hanya oleh sebuah dekrit "ini perintah Allah" lalu titik.

Bukankah kita dituntut mengajarkan dengan cara hikmah ?

Cobalah berpikir, tidak usahlah orang Islam sendiri yang mengakui kerasulan Muhammad, orang lain yang begitu mengerti sosok pribadi Muhammad pasti akan bisa mencintai dan mempercayai beliau. Jika anda tak mampu memahami hingga begitu dalam, lihatlah sosok-sosok pribadi para manusia yang mencintai beliau, hingga sekarang.

Seseorang yang berpribadi baik, sungguh tak masuk akal jika dia mengikuti sosok pribadi yang tidak jauh lebih baik dari dirinya.

Kemudian jika sebaliknya, seseorang yang ingin berkarakter sempurna
sebagaimana Nabi mencontohkannya, tentulah mustahil dicapai tanpa dia mencintai Nabi dan setia kepada beliau.

Kalau setia dan cinta saja tidak,.....lalu bagaimana mencapainya ?


Ingatlah suatu riwayat seorang pemuda yang berkeinginan untuk bertobat dari maksiat akan tetapi sangat berat meninggalkannya, dari Nabi hanya mintai janji," ..akan tetapi kamu tidak boleh bohong padaku !" Hanya tidak boleh bohong pada Nabi, dan pemuda ini begitu mematuhinya, dia bisa lepas dari kemaksiatan. Karena setiap dia melakukannya, merasa malu kepada beliau, dan jika dia melakukannya dan membohongi Nabi dia berarti melanggar janjinya.

Bagi sesama hamba Allah yang beriman, jika dia mencintai sesuatu, buah dari rasa cinta itu tumbuhlah ridho. Tentang ridho ini sungguh adalah hasil dari sebuah hubungan yang sangat spesial. Hingga suatu kali seorang hamba di akhirat kelak masih merasa berkekurangan dengan ditempatkannya di syurga, dipanggillah dia oleh Allah, dan dia ditanya mengapa demikian.

" Karena yang aku mau sebenarnya adalah ridlo-Mu Ya Allah !"

Manusiawi, kalau perlu saya katakan sangat alami, jika seseorang mencintai orang lain, pasti selalu berupaya untuk menyenangkan orang lain yang dicintainya itu.

Apakah bisa seorang muslim mencintai dan meridhoi seseorang hingga dia bisa menahan doanya untuk orang yang dicintainya itu ?

Sudahkah anda tahu sekarang bahwa mencintai Nabi adalah kesempurnaan anda dalam beriman ? Jika sudah, masihkah anda 'kelu' untuk menyampaikan salam kepada beliau ?

Wassalam,

Armansyah

Copyright© 2006, Armansyah  http://armansyah.swaramuslim.net  armansyah_skom@telkom.net
buku islami

SHOLAT MALAM MENGHAPUS DOSA

1 komentar
SHOLAT MALAM MENGHAPUS DOSA


Dari Mu’adz bin Jabal rodhiallohu ‘anhu berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullah, beritahu aku amal yang akan memasukanku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka”. Beliau bersabda, “Engkau telah bertanya tentang masalah yang besar. Namun itu adalah perkara yang mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala. Engkau harus menyembah Alloh dan jangan menyekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah.” Kemudian beliau bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan pintu-pintu kebajikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api, dan shalat di tengah malam.” Kemudian beliau membaca ayat. “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….” Hingga firman-Nya, “…sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan,” (As-Sajdah 16-17). Kemudian beliau bersabda kembali, “Maukah kalian kuberitahu pangkal agama, tiangnya dan puncak tertingginya?”. Aku menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pokok urusan adalah Islam (masuk Islam dengan syahadat,-pent), tiangnya adalah sholat, dan puncak tertingginya adalah jihad.” Kemudian beliau melanjutkan, “Maukah kalian kuberitahu tentang kendali bagi semua itu?” Saya menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau lalu memegang lidahnya dan bersabda, “Jagalah ini.” Saya berkata, “Wahai Nabi Alloh, apakah kita akan disiksa karena ucapan-ucapan kita?” Beliau menjawab, “Celaka kamu. Bukankah banyak dari kalangan manusia yang tersungkur kedalam api neraka dengan mukanya terlebih dahulu (dalam riwayat lain: dengan lehernya terlebih dahulu) itu gara-gara buah ucapan lisannya?” (HR. Tirmidzi ia berkata, “Hadits ini hasan shahih.”)

ILMU YANG BERMANFAAT
Ilmu yang semestinya ditekuni dan dikejar adalah ilmu yang bisa memasukan ke surga dan menyelamatkan dari api neraka. Inilah ilmu yang betul-betul bermanfaat. Perlu diperhatikan bahwa ada keasyikan tersendiri tatkala menuntut ilmu. Maka barang siapa yang keasyikannya melalaikan dia dari hakikat dicarinya ilmu, maka telah melampaui batas.

Pengamalan ilmu pada dasarnya sesuatu yang berat, tetapi terasa mudah bagi yang mendapat kemudahan dari Alloh.

IBADAH
Ibadah hanya boleh ditujukan kepada Alloh. Menunjukkan ibadah kepada selain Alloh adalah syirik. Ibadah hanya kepada Alloh dan tidak berbuat syirik merupakan inti risalah para Rasul. Seseorang yang telah menunaikan ibadah hanya kepada Alloh dan tidak berbuat syirik dinamakan muwahhid.

Syirik ada dua macam, yaitu syirik akbar dan ashgor. Seseorang yang melakukan syirik akbar dinamakan musyrik dan hilang tauhidnya jika sebelumnya dia seorang muwahid. Pelaku syirik ashgor telah berdosa besar dan berkurang tauhidnya, tetapi tidak hilang tauhidnya.

JIHAD FI SABILILLAH
Jihad membedakan agama Islam dengan agama yang lain, seperti punuk membedakan unta dengan binatang yang lainnya. Hukum jihad ada yang wajib dan ada yang sunnah. Yang wajib terbagi dua, wajib aini dan wajib kifayah. Perincian selanjutnya ada dalam kitab fikih.

Sumber: Ringkasan Syarah Arba’in An-Nawawi - Syaikh Shalih Alu Syaikh Hafizhohulloh - http://muslim.or.id

Penyusun: Ustadz Abu Isa Abdulloh bin Salam (Staf Pengajar Ma’had Ihyaus Sunnah, Tasikmalaya)


--------------------------------------------------------------------------------
sumber
.:: HaditsWeb ::.